1 2 3 4 5

KETUA PA PANYABUNGAN


Drs. Abdul Hamid Lbs, MH

Program Kerja, Lakip, & Renstra

HUTAPUNGKUT DESA PEJUANG

 

KETUA PENGADILAN AGAMA PANYABUNGAN

Drs. Abdul Hamid Lubis, MH

Huta Pungkut Kecamatan Kota Nopan Kabupaten Mandailing Natal sebuah desa genit .terselit di celah-celah bukit.antara   padang rahat dengan tor si janggut.tersangkut dan ber gayut-gayut di tepi batang pungkut. Menyimpan cerita unik. Berpindah dari-mulut-kemulut.

Semenjak tahun lima puluhan, Desa Huta Punggkut menarik perhatian orang ramai kerana dua orang pemimpin Negara yang besar pengaruhnya berasal dari desa ini mereka adalah Adam Malik Batubara (pernah menjadi menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden Indonesia dan seorang pejuang kemerdekaan yang gigih). Adam Malik adalah generasi ketujuh keturunan si juangga. Kedua ialah jenderal Abdul Haris Nasution (pernah menjadi menteri pertahanan keamanan nasional). Beliau tokoh perang gerilya yang di deruni oleh Belanda dan tokoh Militer yang banyak berjasa dalam membina angkatan Tentera Nasional Indonesia. Selain mereka, ramai pula tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan berasal dari desa ini seperti mana yang saya ceritakan dibawah ini.

Pada awal abad ke dua puluh,dua orang ‘Ulama besar berada di desa ini. Pertama ialah Syeikh Abdullah Hamid (terkenal dengan syeikh sabilal kerana kealimannya dan kepakarannya mengajarkan kitab sabilal muhtadin.) beliau menjadi rujukan utama orang-orang islam ketika itu. Beliau adalah guru pertama Syeikh Mustafa Husein (pengagas Madrasah Musthafawiyyah Purba Baru) sebelum beliau melanjutkan pelajarannya ke Makkatul mukarramah. Kedua ialah Syeikh sulaiman al khalidi (pemimpin tarikat khalidiyyah). Pengaruh beliau masih di rasakan hingga ke hari ini sampai ke tempat-tempat yang jauh seperti Medan dan Jakarta.

Apabila sarikat Islam di dirikan pada tahun 1912, ramai penduduk Desa ini menjadi ahlinya. Tetapi pergerakan kebangsaan yang lebih aktif bermula pada tahun 1931, apabila Buyung Siregar, Kamaluddin nasution, Mahiddin Nasution, Abu Kasim dan kawan-kawan menubuhkan Partindo sebagai cabang nomor dua puluh tujuh dari seluruh cabang partindo di Indonesia. Pada tahun 1932 Baharuddin Nasution menubuhkan pemuda muslimin Indonesia (PMI). Dan pada tahun 1933 Ahmad Nasution ( pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara dan juga pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan dari Tahun 1972 – 1974 ) dengan kawan-kawan menubuhkan persatuan muslimin Indonesia(PERMI) yang terkenal sepak terjang perjuangannya di Belanda di sumatera. Kemudian Harun Lubis menubuhkan Himpunan Pemuda Islam Indonesia(HPII).

Dari Huta Punggkut di lancarkan propaganda sehingga berdirilah ranting-ranting di sekitar Kota Nopan. Gunug si Janggut yang terkenal dengan nama tor si Janggut yang berada di seberang Huta Punggkut di jadikan tempat pertemuan ahli-ahli gerakan ini. Kadang-kadang pertemuan ini di ikuti tindakan berani oleh pemuda-pemuda yang bersemangat memancangkan Bendera Merah Putih di puncak tor si Janggut. Berita sampai ke Padang Sidempuan bahawa bendera merah putih telah berkibar-kibar di puncak tor sijanggut. Dengan keadaan yang semacam itu, maka sudah tentu ia menarik perhatian Belanda untuk mengawasi gerakan ini.

Perhubungan dengan rekan-rekan pejuang di daerah lain berjalan dengan lancar. Meskipun Adam Malik selaku putera Huta Punggkut ikut dalam pergerakan kebangsaan di Pematang Siantar, beliau terus mempunyai hubungan dengan kawan-kawannya di Huta Punggkut. beliau pernah mengirim dua ratus (200) buah peci swadesi ke Huta Pungkut. Peci swadesi adalah lambang penentangan terhadap penjajah belanda iaitu seperti gerakan swadesi yang di pelopori Mahatma Ghandi terhadap penjajah Inggris di India.

 

 

Semangat para pejuang semakin membara dan pergerakan kebangsaan semakin memuncak. Untuk menyekat pergerakan kebangsaan ini, pemerintah Belanda memperkenalkan peraturan larangan berkumpul (vergader verbod). Pengurus atau anggota parti tidak boleh berkumpul lebih dari tiga orang. Jika di dapati melakukannya pasti akan di hukum. Kontroler Belanda di Kota Nopan memanggil pengurus-pengurus parti untuk di beri amaran. Sebuah gua yang terletak lebih kurang tiga kilo meter di sebelah timur Huta Punggkut di gunakan oleh ahli-ahli pergerakan untuk mengadakan rapat-rapat penting bagi menghindari pengawasan polisi rahasia Belanda. Di dalam gua ini masih tertulis nama-nama sebahagian ahli pergerakan ini. Gua ini menyimpan banyak rahasia yang masih menjadi buah mulut ke mulut sehingga ke hari ini.

Tindakan pemerintah Belanda semakin keras. Rami pemuda di tangkap dengan alasan menghasut dan menghina Belanda. Kantor-kantor parti dan rumah-rumah pengurus di geledah. Malahan ada yang sedang mandi beramai-ramai di sungai di tangkap dengan alasan berkumpul lebih dari tiga orang. Pada satu malam, pegawai Belanda disertai polis datang ke Huta Punggkut untuk menangkap Buyung siregar, Mahidin Nasution dan Abu Kasim. Mereka dimasukkan ke dalam penjara di Kotanopan. Kemudian di pindahkan ke penjara di Tarutung dan akhirnya di buang ke Boven Digul di Irian pada tahun 1935.

Malam itu sepatutnya Kamaluddin Nasution juga di tangkap bersama-sama rakan seperjuangannya yang lain. Namun sebelum sempat beliau di tangkap, beliau telah menyeberang ke Malaya. Di tempat baharu ini yaitu di Malaya beliau menukar nama kepada Abdul Rahman Rahim. Di Malaya, beliau meneruskan perjuagan menentangkan penjajahan Inggris. Beliau bergiat dalam kegiatan yang berkait dengan pergerakan siasah di negeri perak pada tahun 1940 an. Beliau antara tokoh penting parti kebangsaan melayu Malaya (PKMM). Selaian dari pada itu paman penulis bernama H. Amran Lubis juga melarikan diri ke Malaysia pada tahun 1937 dan terus menetap disana hingga akhir hayatnya pada tahun 2015.

Mualif Nasution dan Muhammad Nur lubis melarikan diri ke jawa. Muallif berkenalan dengan tokoh pergerakan yang terkenal Ir.sukarno, dimana kemudian beliau menjadi Sekretaris presiden Ir. Sukarno manakala Muhammad Nur Lubis bergabung dengan Kartosuwiryo, seorang pemimpin Darul Islam yang terkenal dan gugur dalam satu pertempuran pada tahun 1949. Muhammad Nur Lubis Kemudian di takdirkan beliau mati syahid dalam satu pertempuran di jawa barat pada tahun 1949. Ilyas Yusuf Lubis melarikan diri ke Aceh dan meninggal dunia di sana pada awal revolusi. Pejuang-pejuang yang masih tinggal seperti Ahmad Nasution ( pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara dan juga pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan dari Tahun 1972 – 1974 ) dan kawna-kawan di tangkap dan di penjarakan di Kotanopan.

Ulama’ pejuang Syeikh Juned Thala (pemimmpin Madrasah Islamiyyah di Hutamale ) selalu datang ke Huta Punggkut memberi ceramah dan pengajian. Berbeda dengan pengajian yang biasa, beliau menanamkan rasa kesedaran berkenan pentingnya menghayati arti kemerdekaan. Syeikh Juned sendiri terlibat dalam gerakan kemerdekaan ketika belajar di university al azhar. Dan sebagai pemimpin Madrasah Diniyah Perak, Malaya, beliau menghadapi tekanan penjajah Inggris. beliau pernah membawa keluarganya tinggal di Huta Punggkut ketika perlawannya dengan kuria Maga memuncak kerana menyabelahi Belanda. Kehadiran Syeikh Juned di Huta Punggkut tambah menyalakan api perjuangan mencapai-kemerdekaan.

Pada tahun 1940 diadakan konfrensi (mukhtamar) Muhammadiyah se Wilayah Tapanuli yang di adakan di Desa Huta Pungkut, Semua rumah-rumah penduduk diisi dengan peserta dan tamu-tamu yang datang. Di tempat konferensi, manusia penuh sesak memenuhi kemah-kemah dan bangsal-bangsal yang didirikan. Sangat indah dan rasa bangga memingatkan masa itu. Pembicaraan dalam konferensi sangat panas karena menyentuh soal kemerdekaan dan tekanan penjajahan Belanda.

Memandangkan kepada api perjuangan yang menyala dan dan memanas di Desa Huta Punggkut, maka Desa Huta Pungkut layak diberi gelar sebagai Desa pejuang.

Tulisan ini disampaikan sebagai tulisan pembuka jalan, dalam rangka mewujudkan cita-cita Huta Pungkut sebagai Desa Pejuang dengan Monumen yang megah yang dilengkapi dengan Dokumen (biodata) para pejuang, para ‘Ulama dan Pengusaha ternama yang sudah dikenal ramai di Masyarakat.

Kepada Masyarakat Huta Pungkut terutama genesasi muda mari secara bersama-sama secar bergotong royong kita besarkan, kita muliakan dan kita tumbuhkan rasa cinta terhadap kampung halaman, menjadi bangga sebagai orang Huta Pungkut Seperti Kata- kata para orangtua kita (al Marhum Suntut Lubis) yang memberi istilah 3 S, Sahuta, Sahata, Saroha atau juga seperti kata orangtua Kita (Burhanuddin Lubis) juga memberi semboyan 3D yaitu Desaku, Desamu, Desa Kita . Ridho Allah adalah tergantung pada Ridho kedua orangtua, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para Pahlawannya.


Huta Pungkut, 1 September 2017 (10 Zulhijjah 1438 H)

Editor;

Drs. Abdul Hamid Lubis, MH.

(Ketua Pengadilan Agama Panyabungan)

Narasumber :

1. Meniti Arus Perjuangan (Buku Memorial Dato’ Haji Muhammad Rivai Batubara

Diterbitkan Oleh Rumah Buku. Alamat 239 A, Jalan Keledang, Kampung Tengku Hussein, Tambahan,30020 Ipoh, Perak DR.

2. Wawancara (Tanya jawab) dengan berbagai Tokoh Masyarakat Hutapungkut baik yang ada di Hutapungkut maupun Masyarakat Hutapungkut yang ada diperantauan.

WAKIL KETUA

 

Munir, SH., MH

Aparatur Pengadilan

  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator

Dengarkan Ayat Quran Online

ARTIKEL ILMIAH